Showing posts with label Movie. Show all posts

Pada suatu ketika PSK Film Animasi Karya Anak Bangsa
Film Pada Suatu Ketika
“Pada Suatu Ketika” atau disingkat “PSK” adalah salah satu film animasi 3D karya anak bangsa dari alur ceritanya film pendek ini banyak mengadopsi gaya Film “Tansformer” dan “Independence Day”.
Alur Ceritanya Berawal di sebuah pasar,Ada seorang kakek yang mirip sekali dengan tokoh di film “Up” lagi menikmati santapan mie instant sambil mendengarkan radio.
Namun, tiba-tiba saja gelombang radio yang diterima rusak dan lagu yang diputar pun tidak ditangkap dengan baik, tiba-tiba saja sebuah UFO besar menutupi langit.
Para pengunjung pasar pun mulai panik ketika si UFO tersebut mengeluarkan cahaya.
Cahaya tersebut tidak melukai para warga yang ada di pasar, namun tiba-tiba saja sebuah bajaj berubah menjadi robot seperti di film Transformers.
Tidak hanya satu, beberapa bajaj lainnya pun berubah menjadi robot Transformer merah dan sebuah angkutan Kopaja yang sedang berjalan langsung berubah pula menjadi robot.
Bila belum tahu, anda dapat menikmati langsung Filmnya.
Semoga saja Film ini menjadi salah satu Batu sandungan Lompatan Animator indonesia yang lain Untuk lebih meningkatkan kreasi-nya.
Berikut ini tentang Lakon Animasi yang saya kutip dari fans pagenya di http://www.facebook.com/lakonanimasi
LaKON animasi bukanlah Studio Produksi Animasi, melainkan lembaga/studi pelatihan animasi yang rencananya akan dilaksanakan di kota Solo. Kami berusaha ikut berpartisipasi, dalam kapasitas yang kami punya, untuk mendukung sektor industri yang kini sudah-sedang dan akan lebih berkembang, seperti yang sudah dimulai oleh studio-studio animasi di Jakarta-bandung-Jogja-Batam dll. Sebagai lembaga penciptaan SDM, kami memposisikan diri sebagai pelengkap dari institusi2 pelatihan lain, yang sebelumnya sudah lebih dulu ada dan berjalan. Studi LaKON baru akan dimulai pada tahun 2012, dalam format ujicoba.
Video LPSK dibuat dalam rangka uji materi pembelajaran dan pelatihan. Reel tersebut dibuat untuk menemukan bugs ( cacat, kelemahan, kekurangan ) yang terdapat dalam program yang tengah kami susun, baik itu dalam kurikulum, modul dan wawasan pelaksana program. LPSK pada awalnya ditujukan untuk pemirsa terbatas di forum LaKON FB dan di media publik yang menekankan pada diskusi dan apresiasi, dalam hal ini situs video-sharing vimeo. Tanpa mengurangi rasa hormat atas atensi dan tanggapan dari publik yang lebih luas, bahwa pada akhirnya reel tersebut melebar ke media lain, adalah di luar tujuan penerbitan video.
Tidak ada wacana dalam agenda kami untuk menjadikan reel/showcase kami untuk keperluan produksi komersial ( film komersial, tv seri, dll ). Showcase studi memang kami buat dalam kemasan ‘film’ ( unsur cerita dan tokoh ) dengan maksud untuk menghubungkan relevansi program pelatihan dengan kebutuhan industri. Meski dalam kerangka non-komersial, kami akan tetap mempublikasikan showcase-studi berikutnya kedepan, tentunya dalam forum yang lebih terbatas.
Berikut ini screenshot dari film animasi 3D “Pada Suatu Ketika”.
Film Pada Suatu Ketika
Klik Gambar untuk memperbesar
Dari segi alur cerita memang kurang belum menarik, tapi kalau dari segi kualitas gambar jauh lebih baik dari film Upin Ipin, tapi sayangnya durasinya hanya 4 menit. Penasaran silahkan lihat
Selain itu kamu juga bisa mendownload Film Animasi 3D “Pada Suatu Ketika” ini via Enterupload

Ternyata "Shaun The Sheep" pertama kali muncul di televisi pada tahun 1995 dalam film A Close Shave dengan karakter Wallace dan Gromit anjing. Durasinya hanya empat menit tetapi membuat orang banyak menyukainya. Dan sejak itu, Shaun memiliki acara TV sendiri di BBC yg dibuat oleh studio produksi Aardman.


Berikut beberapa hal menarik dari proses pembuatan ‘Behind The Scene’ animasi Shaun The Sheep :

1. Pembuatan Storytime


Sebuah episode bermula dari ide cerita yang sederhana. Ide tersebut diserahkan pada tim scriptwiters untuk diolah menjadi cerita yang bagus.


Kemudian diserahkan pada storyboard artist untuk membuat story linenya, tahap ini juga membantu set dressers, prop-makers, model-makers, riggers dan cameramen untuk mempersiapkan pengambilan gambar dan apa saja yang diperlukan.

2. Persiapan Scene

Rumput di pertanian dibeli dari hobby center, dicat hijau untuk mendapatkan corak rumput yang pas, ditambah dengan rumput ilalang dan bunga aster.

Gumpalan kecil hitam juga disebar untuk mendapatkan efek kotoran domba. Rumput ini kemudian dibentangkan di atas baja berlubang untuk mendapatkan pondasi yang bagus. Animator kemudian dapat menggunakan magnet untuk menjaga karakter di tempat, dan menggunakan baja untuk memasang pohon, rumah pertanian, gudang dan bagian lainnya dari set tersebut tetap pada tempatnya.

3. Pembuatan Model


Model-makers membuat domba dengan terlebih membentuk badan, kemudian membungkus tubuh mereka dengan wool putih. Bulu tersebut kemudian dikotori sedikit dan kaki yang terbuat dari silikon ditambahakan. akhir kepala yg dapat dipasang-lepas dipasang dibadan.

“Kami memiliki sejumlah badan, beberapa mempunyai empat kaki, dan beberapa hanya dua, tergantung pada scene,” kata Chris.

4. Propping Up


Property maker dipanggil untuk membuat segalanya dari handuk pantai berukuran domba, untuk mainan mandi untuk Timmy, dan bahkan meja untuk adegan sihir.

Prop maker Helen Javes berkata: “Semuanya dibuat manual, sehingga sangat rumit. “Bahkan kaki meja dibuat manual untuk mendapatkan bentuk yang tepat.” Tetapi pekerjaan prop maker bukan tanpa risiko. Jari teriris pisau tajam, dan terbakar akibat panas dari lem adalah resiko pekerjaan sehari-hari.

5. Ekspresi Mata


Mata domba memiliki lubang kecil sehingga mereka dapat dimanipulasi untuk membuat mereka melihat ke kiri, kanan, atas, bawah.

Setiap animator juga memiliki puluhan kelopak mata khusus buatan – potongan kecil dari plastisin berbentuk kubah ungu yang dapat ditambahkan ke bola mata membuat berkedip domba, atau terlihat mengantuk.

Karena domba-domba itu tidak berbicara, mereka menggunakan ekspresi untuk menceritakan kisah atau memberikan momen komedi . “kelopak mata merka adalah siksaan bagi animator mata”.

6. Penyimpanan


Bila tidak digunakan, domba dan potongan domba dapat ditemukan disimpan dalam di rak di antara ruangan studio di Aardman.

Ada di sini bahwa animator dapat menemukan kaki cadang untuk Shaun, sedikit bulu ekstra, atau satu atau dua domba yg rusak!

7. Komedi Slapstik


Terlepas dari beberapa embikan dari Shaun dan teman-temannya, gongongan dari Bitzer dan dengusan dari Petani, Shaun and the sheep adalah serial TV diam.
Tetapi sementara Gromit memiliki suara Wallace untuk menjaga cerita terjadi dalam film-film mereka, Shaun tidak memiliki kemewahan itu.

“Lebih mudah untuk menganimasikannya karena lip-sync adalah salah satu aspek yang paling memakan waktu untuk animator,” ujar Chris.

8. Sabar dan Teliti


Karakter dalam Shaun and the sheep bergerak 25 kali per detik, berarti animator harus mengatur ulang adegan 1.500 kali hanya satu menit dari rekaman.
Mereka rata-rata menyelesaikan tujuh detik rekaman/harinya.

sepertinya tidak begitu banyak, tetapi bila dibandingkan dengan Wallace and Gromit: The Curse of The Were-Rabbit and Chicken Run, mereka bekerja dengan kecepatan sangat tinggi.

Wallace dan Gromit rata-rata menghasilkan sekitar tiga detik rekaman/harinya.



Copyright © 2013 Yazz.id